Wednesday, July 29, 2009

Little Holland Vs Little Amsterdam

MELUNCUR di kawasan Kota Lama Semarang ada magnet lain yang akan menarik kita ke abad silam. Magnet itu begitu kuat manakala bangunan tua membentang ke manapun mata mengarah. Bangunan yang tersebar itu tampak relatif masih terawat, masih berbentuk bangunan, meskipun ada di antara bangunan itu yang bentuknya sudah setengah roboh. Tapi secara keseluruhan, kawasan lama berjuluk Little Holland ini jauh lebih menarik daripada kawasan yang berlabel Little Amsterdam - Kota Tua Jakarta.

Perwujudan seni dalam bentuk arsitektur bangunan mewarnai kawasan bekas kota bandar internasional yang terletak di pinggir pantai dengan muara Kali Garang yang bisa dilayari. Pramoedya Ananta Toer dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels menggambarkan bahwa Semarang sejak dulu adalah daerah genangan Kali Garang.

Pram menulis, setelah jatuh ke tangan VOC pada 15 Januari 1678 maka mulai 1743 Semarang menjadi tempat kedudukan Gubernur Pantai Utara-Timur Jawa. Semasa kekuasaan Daendels Semarang menjadi kedudukan kepala Landrostambt dan semasa Raffles menjadi kedudukan Residen.

Arsitektur bangunan di kawasan Kota Lama Semarang beragam. Ada Gereja Blenduk (Nederlandsch Indische Kerk) bikinan 1750 dengan atap kubah yang dipugar pada 1894. Di hadapan gereja ini berdiri gedung karya Thomas Karsten di tahun 1916 yang kini menjadi gedung Asuransi Jiwasraya. Jalanan di kawasan ini kini ber-paving karena terlalu sering diterjang banjir. Tak lupa bangunan Stasiun Tawang yang mencoba tetep bertahan dari terjangan rob. Belum lagi Pasar Semawis yang menghidupkan Pecinan tak jauh dari Kota Lama.

Meski bagi warga Semarang, kawasan Kota Lama menjadi kawasan buangan yang kurang perhatian dari pemerintah setempat, namun bagi warga lain, seperti Jakarta, pastinya kawasan ini jauh lebih hidup. Barangkali, dipadankan dengan Kota Tua Jakarta, kawasan Kota Lama Semarang punya bangunan hidup yang relatif lebih banyak, pun lebih banyak bangunan utuh lantas dipadu jalanan ber-paving tadi. Apalagi ketika melihat atap si Blenduk menyembul di antara bangunan tua lain, bernaung di bawah langit sore. Sempurna cantiknya.

Memang, jika dilihat seksama, kawasan ini belum tertata baik, semisal, begitu semrawutnya lalulintas kabel yang menghalangi pemandangan pada gedung-gedung tua di seluruh kawasan. Jadi mereka yang akan mengambil gambar harus berputar-putar mencari cara agar jalinan kabel yang berseliweran di atas tak menghalangi panorama yang akan diambil.

Keberadaan Semarang diawali tahun 1476 dengan kedatangan utusan Kerajaan Demak (Ki Pandan Arang) untuk mengislamkan semenanjung Pulau Tirang (kini daerah Murgas dan Bergota, Semarang). Kawasan yang subur ini, konon, pohon asem masih jarang (dalam bahasa Jawa menjadi arang) sehingga nama asem arang itu berubah menjadi Samarang kemudian Semarang. Dalam buku Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-kota di Indonesia, ada satu makalah berjudul Pemukiman Rakyat di Semarang Abad XX: Ada Kampung Ramah Anak, Radjimo Sastro Wijono menulis sejarah Semarang.

Radjimo juga menuliskan tentang orang China pertama yang ada di kawasan Pulau Tirang yaitu Sam Po Tay Djin yang sudah ada sebelum Ki Pandan Arang tiba di sana. Sam Po Khong, klenteng, menjadi tengara keberadaan Sam Po tay Djin. Sejak abad 18 Semarang mengalami tiga kali perubahan batas kota dan di abad 19 kota ini disebut sebagai Kota Batavia kedua.

Di abad 19, pusat strategis kota dihuni oleh kelompok ras Eropa. Disebutkan oleh Radjimo, ras tersebut menghuni Zeestraat (kini Jalan Kebon Laut): Poncol, Pendrikan, kawasan Kota Lama (sebelah timur Jembatan Berok). Sampai-sampai Domine Baron van Hoevell, seorang pendeta yang berkunjung ke Semarang tahun 1847 menyatakan, permukiman orang Eropa di timur Jembatan Berok itu seperti kota kecil di Eropa.

Kota Lama semula ada di dalam benteng yang konon dibangun 1705 dan dihancurkan pada 1824. Kota Lama terus berkembang hingga setelah 1945 Belanda angkat kaki. Kota Lama yang pernah jadi pusat politik dan ekonomi ini makin hari makin merana, ditinggalkan.

Sementara itu Jakarta dimulai pada 1527 yaitu ketika Fatahillah berhasil mengenyahkan Pajajaran dan Portugis dan mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Di tahun 1619 VOC yang dipimpin oleh JP Coen menaklukkan Jayakarta dan membakar kota itu untuk kemudian mendirikan Batavia. Kota ini terus berkembang ke arah selatan hingga awal abad 20 di mana Kalibesar menjadi etalase bangunan dan jadi pusat perekonomian. Kawasan seluas 846 hektar itu kemudian juga ditinggalkan karena pusat ekonomi dan politik makin berkembang ke arah lebih selatan lagi ke arah pusat.

Revitalisasi
Jika revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang sudah dimulai tahun 2003, maka revitalisasi Kota Tua Jakarta baru menyusul tiga tahun kemudian. Yang jadi soal barangkali luas wilayah. Jika di Jakarta mencapai lahan 846 hektar maka di Semarang sekitar 30 hektar. Jakarta sudah memoles Jalan Pintu Besar Utara dan lantai Taman Fatahillah. Kini penggantian jalan aspal menjadi batu andesit juga sedang dikerjakan di Jalan Poskota hingga ke Jalan Lada.

Kondisi tanah, tampaknya tak jauh berbeda. Muka tanah di kawasan Kota Tua Jakarta makin turun karena kondisi air tanah Jakarta yang makin susut serta kondisi lingkungan yang memang buruk. Kota Lama makin porak poranda karena menjadi langganan banjir rob.

Jika memandang Kota Lama Semarang lebih baik dari Kota Tua Jakarta, bisa jadi karena memang jumlah bangunan tua tak sebanyak di Jakarta, selain itu dari sedikit bangunan kini beberapa pengusaha bertahan dan sudah masuk ke kawasan itu.

Yang pasti, tanpa kemauan yang sungguh kuat dari pemerintah dan dukungan stakeholder, rasanya revitalisasi akan berjalan bak siput merayap.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Sunday, May 3, 2009

Ke Bengkulu Ayo Berburu

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Bengkulu mempromosikan wisata berburu pada wisawatan baik lokal, domestik maupun mancanegara.

"Pada setiap kesempatan kita selalu mengundang wisatawan untuk datang ke Bengkulu guna menikmati berbagai obyek wisata yang ada, termasuk wisata berburu," kata Kepala Disbudpar Provinsi Bengkulu, Edi Nevian di Bengkulu, Rabu.

Di Provinsi Bengkulu, banyak hutan yang masih perawan dan cocok untuk lokasi berburu, di antaranya Taman Buru (TB) Semidang Bukit Kabu di Kabupaten Seluma, berjarak 20 km dari Bandara Fatmawati, Kota Bengkulu.

"Bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus menyalurkan hobi berburu babi, bisa datang ke Taman Buru (TB) Semindang Bukit Kabu," katanya.

Selama ini TB Semindang Bukit Kabu sering dijadikan lokasi berburu babi oleh anggota Perbakin dari berbagai daerah, seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat. Sambil berburu mereka bisa menikmati keindahan alam yang memang masih sejuk.

Kawasan Semidang Bukit Kabu merupakan Taman Buru Nasional yang mempunyai luas sekitar 15.300 hektar yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian.

Di kawasan itu masih banyak terdapat satwa langka yang dilindungi, seperti harimau sumatera, rusa, menjangan, dan berbagai jenis hewan langka lainnya. Hewan-hewan itu tidak boleh diburu karena dilindungi.

Di hutan konservasi tersebut juga masih banyak babi hutan, hewan inilah yang diizinkan untuk diburu. Kawasan ini merupakan "surga" bagi pemburu untuk berburu babi, dan merupakan satu-satunya jenis hewan yang diizinkan untuk diburu dengan menggunakan senjata api atau berburu tradisional.

"Bagi mereka yang ingin berburu menggunakan senjata api dibolehkan, tapi harus ada izin terlebih dahulu dan berkoordinasi dengan pengurus provinsi Perbakin Bengkulu," katanya.

sumber:kompas

Tuesday, April 21, 2009

Obyek Wisata Selat Pantar di Alor Belum Dijamah

Kupang, NTT Online - Obyek wisata Selat Pantar di wilayah perairan Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kaya habitat laut, jenis karang dan ikan belum dijamah.

Bupati Alor, Ans Takalapeta dalam percakapan dengan Antara di Kupang, Rabu mengatakan, pemerintah Kabupaten Alor sudah mulai melirik kawasan itu untuk ditata dan dijadikan sebagai obyek wisata bahari.

"Saya sudah mengeluarkan regulasi berupa Surat Keputusan (SK) Bupati tentang penetapan Selat Pantar dan sekitarnya sebagai Taman Laut," katanya.

Kebijakan itu, kata dia, langsung mendapatkan respon dari Departemen Kelautan dan Perikanan RI dan melalui Direktorat Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil melakukan survei lapangan untuk menilai calon kawasan konservasi laut daerah Kabupaten Alor.

Dari hasil survei, kata Takalapeta, telah ditetapkan tujuh zona, baik pemanfaatannya dan zona perlindungan yang masuk konservasi laut.

Saat ini, Departemen Kelautan dan Perikanan sedang menyusun rencana tata ruang dalam rangka penataan kawasan konservasi laut di Selat Pantar.

Dia menambahkan, pemerintah Kabupaten Alor juga telah menetapkan sistem pengelolaan yang meliputi kelembagaan, sumber daya manusia, pembiayaan, peraturan daerah, monitoring, evaluasi dan pelaporan.

Langkah ini untuk untuk mengoptimalkan pengelolaan kawasan di sekitar Selat Pantar, katanya.

Dalam hubungan dengan pengelolaan, dia mengatakan, pengelolaan ekosistem lebih dititikberatkan pada pengelolaan integritas ekologi dari suatu ekosistem secara keseluruhan dengan tetap mempertimbangkan aspek-aspek pemanfaatannya.

Sistem ini sekaligus akan menjaga dan mempertahankan kawasan itu menjadi kawasan yang tetap mendapatkan perlindungan, kata Bupati Ans Takalapeta. antara

Putri Duyung Cottage

Putri Duyung Cottage is a family health in the cottage and is located in the coastal area of Taman Impian Jaya Ancol. There are currently 128 to 133 cottage with many amenities that are in the area of 70,000 square meters this. Usually-cottage This cottage is named in accordance with the names of sea animals such as Kerang, Sea Horses, Kerapu, tuna, Duyung, Pope and Marlin.